MENUA

Sila sebelum sakit tampak badannya lebih berisi
Sila kondisi awalnya baik - baik saja, di akhir tahun 2021 dia sakit dan mulai menunjukkan beberapa gejala. Dia menjadi lebih sering menggaruk badannya. Berawal dari badannya mulai gatal, timbul serpihan putih seperti ketombe gitu di sela - sela bulunya. Pada bagian leher juga terdapat bintik - bintik merah. Aroma badannya lebih menyengat, tidak seperti biasanya. Aku pun meminta resep obat sama kakakku dan Sila juga diberi obat suntik waktu itu. Aku harus mandiin dia setiap seminggu sekali dengan pemberian obat minum rutin selama sebulan penuh. 

Dia sakit. Sakitnya lebih lama dan terlihat cukup parah. Selain badannya gatal - gatal, dia mulai mengalami batuk akut, bulunya rontok parah, lalu nafsu makannya pun juga menurun. Hal itu membuat badannya terlihat lebih kurus. Aku setiap harinya mengira bahwa Sila akan mati waktu itu. Bukan tanpa alasan, karena raut wajahnya terlihat lelah sekali dan sepertinya dia juga tidak nyaman dengan kondisinya itu. Semenjak dia sakit, aku membiarkan dia tidur di kamarku setiap malam. Bahkan jadi keterusan sampai hari ini.

Sila yang kini kondisinya mulai membaik


Aku berdoa setiap malam sembari melihat dia terkulai lemas, berharap agar dia segera pulih. Tapi, kalau dia memang harus pergi meninggalkan aku, biarkan dia mati dengan kondisi yang tidak lebih parah dari hari itu. Namun, entah bagaimana, Sila masih bertahan sampai hari ini. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Makan sudah lebih lahap dan porsinya makan pun sudah kembali normal. Bulunya mulai tumbuh dan sudah tidak gatal - gatal lagi. Aroma badannya tidak semenyengat ketika dia sakit. Batuknya tidak sesering dan separah bulan Januari kemarin. 

Secara menyeluruh, kalau diperhatikan, pemberian obat untuknya selama sebulan itu berhasil. Kondisinya mulai pulih meski tidak seperti tahun lalu. Mungkin karena faktor umur. Dia sudah tua. Jadi, mulai keluar deh itu sakitnya. 

Intinya, aku dan keluarga sangat senang melihat kondisinya saat ini yang berangsur membaik. Aku masih diberi kesempatan untuk merawatnya dan Sila juga masih bisa menemaniku disini.

Sila adalah anjing yang cuek namun kadang perhatian. Dia tahu kapan saatnya harus menemaniku. Dia mengerti saat moodku jelek atau aku lagi sedih, dia membiarkan dirinya aku sentuh, aku elus, aku puk - puk semauku. Dia juga kadang minta dielus kalau aku lagi diam -  diam menangis di dalam kamar. Aneh memang. Dia anjing, tapi tahu bagaimana cara menghiburku saat kondisiku terpuruk.

Begitu pula sebaliknya. Kalau aku dirasa baik - baik saja, Sila tidak akan mau dekat denganku. Dia lebih memilih jemuran atau rebahan. Kalau aku mendekat, ingin elus badannya, dia bangun lalu menghindar, sembari memandangiku dengan tatapan, "Jangan elus aku".

Yah, begitulah si Sila. Anjing cuek yang perhatian ini.

Anjing pertama yang aku pelihara. Dia istimewa. Temanku satu - satunya di rumah. Dia yang menemani dikala aku terpuruk atau merasa kesepian. Dia memang tak pernah menjawab semua keluhanku, tapi dia selalu ada disana. Saat aku butuh seseorang ketika aku merasa lelah akan semua hal yang terjadi dalam hidupku.

Aku sering menangis dihadapannya. Dia hanya terdiam memperhatikanku.

Ketika dia sakit, aku berharap jika dia pergi, meninggalkanku selamanya, semoga nanti dia menjadi makhluk yang jauh lebih baik dari kehidupan saat ini. Semoga dia tidak perlu lahir kembali ke dunia ini. Aku ingin dia menjadi lebih baik lagi karena dia sangat bermakna di cerita hidupku.

Sekian ceritaku tentang My Bestie, Sila.


S.y./26032022

Komentar